Masjid, Pusat Pendidikan Agama Islam
Penyelenggaraan pendidikan agama Islam dan perkembangannya tidak terlepas dari jasa besar masjid. Hidup sebagai muslim tidak dapat dipisahkan dari keberadaan masjid, karena beberapa ibadah wajib diantaranya harus dilaksanakan di masjid. Ibadah tersebut juga berarti praktek pendidikan agama Islam yang sudah kita dapat sejak kecil, seperti sholat berjamaah dan sholat jum’at.
Masjid disamping sebagai tempat ibadah juga sebagai pusat kegiatan umat Islam. Masjid juga digunakan oleh Rasulullah SAW sebagai kegiatan sosial dan politik menyusun strategi perang.
Rasulullah SAW tidak hanya mengajarkan masjid sebagai tempat ibadah mahdhah saja, tetapi kegiatan lainnya yang berurusan dengan kepentingan umat.
Orang boleh saja meragukan masjid sebagai pusat aktivitas agama Islam di era global ini. Pendidikan tentang agama Islam dan aktivitas agama Islam diperoleh dan dapat dilakukan di banyak tempat, tidak hanya di masjid saja. Prinsipnya, jika dilihat dari beberapa ketentuan agama mengenai masjid, umat Islam tidak dapat dipisahkan dengan masjid. Sejarah membuktikan kalau masjid sebagai awal pusat pendidikan agama Islam.
Masjid juga sudah ditakdirkan menjadi rumah Allah SWT dan milik umat Islam dimanapun berada. Keberadaan masjid bukan hanya menjadi kebutuhan sebagai sarana ibadah, tetapi keberadaan masjid juga wajib adanya pada suatu wilayah yang ada umat muslimnya.
Mayoritas penduduk kabupaten Kebumen adalah muslim. Desa-desa di kabupaten Kebumen ini minimal terdapat satu bangunan masjid pada setiap desanya. Desa yang wilayahnya luas dan berpenduduk banyak/padat, bahkan tidak hanya terdapat satu bangunan masjid. Desa Jemur kecamatan Kebumen adalah contoh desa yang mempunyai dua bangunan masjid. Masih banyak desa lain yang mempunyai masjid lebih dari satu, misalnya di desa Karangsari Kebumen, terdapat enam bangunan masjid.
Keberadaan masjid jauh lebih sedikit dibandingkan keberadaan Musholla. Musholla lebih banyak, disebabkan karena dapat didirikan pada setiap tempat dimanapun minimal sebagai tempat sholat saja. Musholla bisa didirikan disetiap komplek RT, komplek RW, komplek perkantoran, bahkan rumah kita masing-masing. Keberadaan mushalla, tidak untuk menunaikan shalat jum’at. Desa Jatimulyo Alian Kebumen, adalah contoh desa yang mempunyai tujuh bangunan musholla milik masyarakat dan tiga bangunan masjid. Kenyataan yang ada, musholla dalam menyelenggarakan pendidikan agama Islam maupun sebagai tempat ibadah umat Islam tidak berbeda dengan di masjid, secara prinsip kegiatan musholla bermula dari bagaimana konsep memakmurkan masjid.
Keberadaan bangunan masjid dalam Islam terdapat persyaratan tertentu, misalnya batas-batas wilayah dan minimal ada empat puluh orang untuk mendirikan sholat Jum’at. Masjid juga tidak boleh didirikan pada satu komplek dalam satu batas wilayah yang kecil.
Bangunan masjid semakin banyak seiring dengan bertambah banyaknya penduduk di Indonesia dan semakin banyaknya pembangunan komplek perumahan. Semakin banyaknya masjid dan tuntutan mendirikan masjid menunjukkan bahwa masjid sangat berpotensi untuk menjadi pusat pendidikan agama Islam dan pusat peradaban yang menyertai perkembangan kehidupan umat Islam sepanjang masa.
Makmurnya masjid juga berimplikasi pada terpenuhinya jama’ah akan pendidikan agama Islam dan tempat pembinaan umat.
Pendidikan agama Islam di masjid pada umumnya dilaksanakan secara konservatif atau tradisional. Pendidikan agama Islam dengan cara tradisional adalah dengan metode bandungan atau sorogan. Pengajar pendidikan di masjid dengan membaca dan didengarkan atau ditirukan oleh santri masjid, atau sebaliknya. Metode ini juga memungkinkan untuk terjadinya Tanya jawab antara santri masjid dengan seorang ustadz atau kyai masjid.
Pendidikan agama Islam di beberapa masjid di Kebumen ini juga mengalami perkembangan. Masjid yang melakukan pengembangan pendidikan agama Islam contohnya adalah masjid Nurul Iman desa Kawedusan, masjid desa panggel kelurahan panjer Kebumen. Komplek masjid-masjid tersebut juga dibangun sarana pendidikan dan organisasi masjid seperti pengurus TPQ, dan tempat khusus untuk belajar Alquran. Keberadaan pondok pesantren juga berawal dari bentuk pengembangan pendidikan agama Islam di masjid. Masjid Jami’ Wonoyoso Kebumen adalah contoh bentuk pengembangan pendidikan agama di masjid berbentuk pondok pesantren, bahkan meluas kepada pendirian bangunan madrasah sebagai pendidikan formal.
Banyaknya fungsi masjid yang semakin meluas sebagai sarana pendidikan agama Islam secara lebih sistematis, tidak mengurangi kharisma masjid yang ada di desa-desa yang menyelenggarakan pendidikan secara tradisional.
Sejarah perkembangan masjid lebih banyak menyuguhkan kajian agama dari pada kegiatan sosial. Pendidikan agama Islam di masjid juga lebih banyak dari pada aktivitas pendidikan agama Islam pada lembaga pendidikan formal. Masjid pada setiap malam dapat menyelenggarakan pendidikan agama seperti pengajian kitab. Ada yang bersiafat harian, mingguan, sebulanan dan tahunan dan sepanjang waktu. Berbeda dengan penyelenggaran pendidikan dan aktivitas pendidikan agama Islam di madrasah atau sekolah. Institusi madrasah dan sekolah menyuguhakn materi pendidikan agama Islam dengan waktu yang sangat terbatas. Materi pendidikan agama Islam didapat dua sampai enam jam perminggunya dan dalam kurun waktu tiga tahun.
Pendidikan agama Islam yang di selelenggarakan di masjid., tidak terbatas oleh waktu. Konsep pendidikan seumur hidup, setiap saat bisa di dapat di masjid walaupun tidak dalam pengertian semua masjid. Begitu juga keberadaan masjid di desa dengan masjid di kota. Masjid di kota, pada umumnya aktivitas agama Islamnya terbatas, hal ini karena karakter masyarakat kota yang berbeda dengan karakter masyarakat perdesaan.
Pertamaaaaxxxzzz…
Sangat disayangkan sekarang…
Ada mungkin banyak
Mesjid yang berdiri megah,,tetapi isinya bisa dihitung dengan jari tangan..
Idem dengan kang Dadang
banyak bangunan masjid bermegah-megahan tapi jamaahnya ogah-ogahan dalam memakmurkannya. makmurnya masjid di tandai dengan banyaknya shaf yang terisi dengan shalat berjamaah. masjid penuh hanya di bulan Ramadhan saja, itupun diawal awal malam tarawih. di akhir malam rfamadhan shaf berkurang drastis, karena pusing mikirin budaya konsumtif lebaran. sistem pendidikan agama Islam di sekolah, mungkin juga melupakan masjid. semoga kedepan lebih baik lagi pendidikan agama generasi penerus bangsa.
Selamat malam Badruz,
Betapa besar nikmat ALLAH yang dilimpahkan kepada kehidupan ini. Kita tidak dapat menghitungnya saking besarnya, kita tidak mungkin mampu membalasnya meskipun setiap menit kita bersujud menghiba-hiba di haribaanNya. Betapa beruntungnya kita memiliki rumah ALLAH yang berisi orang-orang yang taqwa, taat melakukan perintahNya dan selalu setia menyembahnya, Sukuri nikmat yang diberikan Tuhan kepada kita, karena tidak semua orang dapat menikmati rumah Allah yang aman dan damai. Tuhan hanya minta kita mensyukuri nikmatNya, atas apa yang dilimpahkan atas kehidupan ini. Terima kasih postingannya, Sukses untuk Badruz.
Regards, agnes sekar
Sukses terussss…. postingan bagus.
Mesjid selain sebagai tempat ibadah juga merupakan tempat pendidikan Islam, tapi tidak semua pendidikan Islam harus di mesjid.
Salam kenal juga
salam,
… lam kenal yee
senang bertemu Anda melalui blog ini saya Agus Suhanto, posting yg bagus
saya sering miris melihat kondisi masjid yg sepi2 saja… padahal dulu waktu menggalang dana pembangunan begitu sangat antusias. dan mmg seharusnya masjid sebagai pusat pendidikan agama islam, banyak hal yg bisa dilakukan dr masjid.
Ya, memakmurkan masjid dengan kegiatan yang postitif untuk mendidik adik2 kita di TPQ adalah salah satu bentuk pengabdian kita kepada Allah SWT dan kepada bangsa negara demi memajukan generasi depan kita. Salam kenal dari Surabaya
Sekarang ini dimana2 trdapat mesjid. Satu RT mungkin satu mesjid, bahkan ada yg dua. Secara kasat mata memang baik. Tanda awal bahwa syiar islam sudah menyebar.
Sangat sayang bila kemegahan mesjid tidak diimbangi dengan kemeriahan aktivitasnya. Mesid terasa kosong dan dingin. Sepi. Gersang dan hambar. Terkadang bahkan mesjid di kunci terkesan sangat privasi.
Masuk akal meskipun mesjid bertebaran, tidak diiringi dengan peningkatan ketakwaan spiritualitas..
Salam kenal.
Saya jadi keinget kampung saya, di daerah Minangkabau sana, yang dulu menerapkan ‘sistem surau’. Pemudanya dekat banget dengan surau. Tidur pun di surau. Sehabis belajar mengaji di surau, kemudian belajar silat, dan tidur di Surau.
Sekarang sistem itu seperti tidak terdengar lagi
IMHO ,
sepertinya sekarang ini banyak fenomena atau kalau boleh dibilang “gengsi” orang berlomba membangun mesjid, menjadikan bertingkat, padahal jarak antara mesjid 1 dengan lain hanya radius 500 m – 1 km ..
mungkin ini salah satu sebab mengapa mesjid sekarang sepi …
Assalamu’alaikum,
Yang sangat disayangkan adalah ramainya yang shalat berjemaah di masjid, hanya pada bulan Ramadhan saja. Alangkah baiknya apabila pada hari-hari biasa di bulan-bulan lainnya, banyak juga yang melaksanakan shalat berjemah di masjid.
Masjid juga buat menginap jika dalam perjalanan dan tidak ada penginapan…
Hmm saya merasakan banyak masjid “hidup” serta saya merasakan menjadi bagian dari aktifitas jamaah ketika berada di Semarang, diantaranya masjid Baitur Rahman (Simpang lima), Masjid RS Roemani dan masjid Kauman (pasar Johar), saya sering “nongkrong” di tiga masjid tersebut dulu, dan banyak sekali manfaat secara spiritual yg saya dapat, salah satunya adalah ketentraman dan keteguhan hati.
Terima kasih atas komentar pembaca semuanya. Mungkin butuh semacam training khusus ya buat ta’mir masjid. bukan berarti menyepelekan tamir masjid. namun, masyarakat sering mengandalkan ta’mir masjid dalam memakmurkannya melalui program dan kegiatannya. barangkali, makmur dan tidaknya masjid juga tergantung pada kreativitas tamir dalam menyelenggarakan sistem pendidikan agama Islam di masjid, dan dalam memotivasi jamaah agar minimal shalat jamaah di masjid. betul komentar anda di atas, masjid ramai hanya di bulan ramadhan saja. selain bulan itu sepi. di hari-hari biasapun masjid banyak jamaahnya di waktu shalat maghrib dan Isya. shalat shubuh menduduki urutan terakhir tersedikit jamaahnya dalam shalat berjamaah. itu di masjid sekitar saya, mudah-mudahan tidak di masjid sekitar anda.
Assalaamu’alaikum
Walaupun tidak ramai jamaahnya pada hari-hari biasa, namun kita masih patut bersyukur kerana masjid menjadi syiar meninggikan Islam. sekurang-kurangnya menjadi kemudahan bagi mereka yang sentiasa bermusafir seperti saya. Bumi Allah ini juga adalah masjid. Salam ukhuwwah.
Tentang memakmurkan Masjid…
Di tempat saya, ada sebuah desa yang ‘dalam kaca mata saya’ (istilah aje sih.. soalnya saya Alhamdulillah belum berkaca mata nih)… sangat istimewa…
Janji Allah terbukti disini, bahwa ‘jika di suatu negeri, penduduknya memakmurkan Masjid… maka Allah Ta’ala kan memakmurkan negeri itu’.
Jadi ada sebuah kampung kecil, di Utara Pulau Bangka… yang Masjidnya (tepat nya Surau) selalu ramai dan sudah mengalami 3 kali renovasi hingga saat ini. Luar biasanya.. mereka merenovasi Surau tersebut adalah dari uang sumbangan masyarakat kampung itu sendiri… tanpa ada bantuan dari luar.
Jadi memang ada petugas khususnya yang berkeliling dari rumah ke rumah untuk mengumpulkan dana sumbangan seikhlasnya untuk Surau tersebut setiap bulan.
Hebat nya… jika rumah kita bertetangga dengan rumah warga di kampung itu, sekalipun jaraknya hanya beberapa meter atau sekedar terpisahkan oleh got saja… akan tetapi rumah kita itu sudah masuk kampung lain… Rumah kita ini tidak akan dimintai sumbangan. Jadi HANYA dari warga di kampung itu saja… tidak ada satu rumah pun yang dimintai sumbangan yang diluar kampung tersebut…
Makanya kadang saya heran dengan maraknya peminta sumbangan untuk pembangunan masjid di Madura (jatim) sana yang datang mengetuk rumah – rumah kami di Provinsi Bangka Belitung ini…
Kembali ke kampung tadi…
Perlu diketahui… penduduk di kampung tersebut, tidak ada yang memiliki pekerjaan “hebat”… dalam artian menjadi Pejabat Tinggi di sebuah Perusahaan terkemuka atau pemerintahan… kebanyakan hanya tukang buat kue, tukang jual kue keliling, atau bikin makanan – makanan khas Bangka saja… yang mungkin kalau di hitung – hitung… nggak akan seberapa lah penghasilannya…
Tapi kenyataannya berbeda… Rata – rata penduduk di kampung tersebut, sebagiannya, sudah menunaikan ibadah Haji… Dan kampung itu sendiri pernah memecahkan rekor Qurban Sapi terbanyak di Kab. Bangka…
Kampung yang luar biasa… mereka memakmurkan masjid… Allah Ta’ala memakmurkan negeri mereka…
Tapi itu beberapa tahun yang lalu… nggak tau lagi kalau sekarang, ketika Orang – orang tua yang PANDAI AGAMA-nya sudah banyak yang meninggal dunia, sedangkan sekarang banyak anak – anak muda yang SOK TAU AGAMA banyak beredar disana…
Yang pasti… beberapa tahun yang lalu… kampung itu sangat makmur…
Masjid yang makmur,masyarakatnya juga makmur. memakmurkan masjid, juga kepuasan bathin, ridha Allah SWT yang diharapkan. “barangsiapa membangun masjid Allah, Allah akan membangunkan sepertinya di surga” (HR Bukhari).
di tempat saya juga sering, ada sumbangan untuk membangun masjid. iya kalau itu beneran mas, kadang mencurigakan. banyak dari mereka sendirian dan tidak disertai izin desa, anehnya lagi, kadang bersepatu dan tidak memakai kopiah. saya pernah menerima tamu seperti itu, atas nama masjid tetapi kok slonong boy, sepatu tidak dicopot ketika masuk bertamu. Mungkin ini tidak berlaku bagi mereka yang ingin memberi kepada siapapun yang meminta.
Dibanyak tempat kita bisa melihat, betapa kini bangunan masjid yg indah2 banyak bertebaran, namun hanya dimakmurkan dlm Ramdhan saja.
Namun, kalau sudah akhir Ramadhan kembali sepi.
Apa yg salah ya ?
Salam.
yah mungkin karena sistem pendidikan agama kita ya bund. padahal dalam alqur’an di jelaskan, memakmurkan masjid adalah bagian dari orang-orang yang berfiman kepada Allah dan hari akhir. karena masjid adalah rumah Allah SWT. masjid juga simbol kekuatan Islam. hadits Nabi SAW, yang saya lupa redaksi dan perawinya, bahwa nabi SAW sangat suka dengan barisan shaf berjamaah yang rapat dan lurus. seakan-akan menunjukkan ummat yang kuat dan kokoh, sehingga syetanpun takut dengan ahli jama’ah shalat. maaf, kayak ustadz saja. karena tetangga saya ustadz, jadi lamat-lamat sering mendengar gitu…
Mantap nih mas ulasannya ttg fungsi mesjid yg sebenarnya. Sayangnya kok saat ini banyak mesjid yg sepi saat masuk waktu sholat. Padahal Rasul selalu mangajarkan kita utk berjamaah selalu di mesjid, tidak waktu sholat Jumat aja.
Ass.
Menarik tulisan tentang Masjid ini, sekarang ini banyak yang bangunan Masjid yang megah secara fisik, jadi tinggal bagaimana memikirkan untuk memakmurkannya.
Benar, sebagian fungsi Masjid adalah sebagai pusat pendidikan agama Islam, karena Masjid sebenarnya adalah pusat kebudayaan Islam.
Masjid di kota, tergantung dengan pengelolanya, karena ada sebagian Masjid yang mempunyai aktivitas yang beragam dan padat, seperti Masjid Agung Al-Azhar (ada YISC Al-Azhar) dan Masjid Sunda Kelapa (ada RISKA) yang mempunyai kegiatan remaja dan pemuda yang penuh aktivitasnya, mungkin yang membedakan adalah mobilisasi orang yang memakmurkannya.
Salam.
Tamir masjid sangat berperan dalam program, kegiatan masjid agar makmur. Masjid di kota saya juga begitu pak, masjdi agung kauman Kebumen, hari-hari biasa ya sebagai tempat shalat dan singgah bagi orang yang mau istirahat. tetapi luar biasa ramainya di waktu ramadhan. hal ini dikarenakan, pengisi kajian kitab, diskusi di masjid agung tersebut adalah para da’i kondang di Kebumen seperti KH Nasirudin Al Mansur (Bupati Kebumen), KH Bambang Sucipto, MPdI (Kepala Depag Kebumen), dll. tapi mengapa ya, ramdhan belum lama berlalu, masjid sudah sepi kembali. ya memang tidak bisa di generalisir. banyak juga masjid di perkotaan yang makmur.
Marilah kita bertakwa kepada Allah SWT dengan mengembalikan keagungan masjid ke dalam hati kita. Bersegeralah untuk menuju kepadanya, dan memperbanyak duduk-duduk di dalamnya. Mari kita dengarkan motivasi yang pernah Rasulullah SAW katakan, yang mendorong kita untuk bersegera mendatangi masjid dan duduk-duduk di dalamnya. Mudah-mudahan kita menjadi orang-orang yang senantiasa mengingat Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda, “Shalat seseorang dengan berjamaah lebih utama dari pada shalat di rumahnya atau di pasarnya sebesar dua puluh lima derajat. Dan hal itu apabila ia berwudhu dan memperbagus wudhunya kemudian ia keluar menuju masjid dan tidaklah ia keluar kecuali untuk mengerjakan shalat, maka tidaklah ia melangkahkan kakinya kecuali Allah SWT akan mengangkat derajatnya dan dihapuskan segala kesalahannya. Apabila ia shalat, maka tidak henti-hentinya malaikat mendo’akannya selama ia berada di tempat shalatnya. Ya Allah limpahkanlah rahmatMu kepadanya. Dan ia senantiasa berada di dalam shalat selama ia menunggu shalat.” (HR. al-Bukhari)
Imam Malik meriwayatkan sebuah hadits di dalam Muwaththa’nya, “Barangsiapa yang berwudu dan ia memperbagus wudhunya kemudian ia menyengaja keluar untuk mengerjakan shalat, maka sesungguhnya ia sedang berada di dalam shalat, dan ditetapkanlah kebaikan baginya di dalam salah satu langkahnya, dan dihapuskan baginya kesalahan di dalam langkahnya yang lain. Maka apabila salah seorang di antara kalian mendengar iqamat, janganlah ia tergesa-gesa, karena sesungguhnya yang paling besar pahalanya di antara kalian adalah orang yang paling jauh rumahnya dari masjid”. Kemudian mereka pun bertanya, “Mengapa wahai Abu Hurairah? maka ia pun menjawab, “Karena langkahnya lebih banyak”.
Abu Hurairoh radhiallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Inginkah kalian aku tunjukan sesuatu yang dengannya Allah akan menghapus dosa-dosa kalian dan mengangkat derajat kalian? Maka para sahabat berkata, “Ya wahai Rasulullah”. Kemudian Rasulullah bersabda, “Menyempurnakan wudhu dalam kondisi tidak disenangi, memperbanyak langkah ke masjid, dan menunggu shalat setelah shalat, maka itulah ar-ribath, maka itulah ar-ribath (bentuk menahan diri untuk senantiasa berbuat taat kepada Allah).” (HR. Muslim dan Malik)
Dari Abu Buraidah radhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ia bersabda,”Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan menuju masjid di dalam kegelapan dengan cahaya yang sempurna pada hari Kiamat”. (HR. Abu Daud dan at-Tirmidzi)
Dan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Sesuautu yang paling Allah senangi dari sebuah negeri adalah masjid-masjid yang ada di dalamnya, dan sesuatu yang paling Allah benci darinya adalah pasar-pasar yang ada di dalamnya”. (HR. Muslim)
Allah SWT telah memuliakan masjid beserta orang-orang yang memakmurkannya dengan ketaatan. Dan Ia telah menjanjikan kepada mereka pahala yang sangat besar. Allah SWT berfirman, artinya, “Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut namaNya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang. Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan shalat, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (Meraka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberikan Balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah SWT menambah karuniaNya kepada mereka. dan Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendakiNya tanpa batas.” (QS. an-Nur: 36-38.
pak Alwi.., menyejukkan. tanks
ASSALAMUALAIKUM..thnx diatas saudara kerana menulis peranan2 masjid di blog ini..i am so appreciate…
kerana saya dapat menghabiskan assignment saya dgn scpat mkinn..
trima ksih skli lagi
http://www.lazyrsgold.com | cheaprs2gold, runescape
prices, rs2happy, gold4rs, runescape, buy rs gold, buy runescape gold, runescape gold, rs gold,
trima kasih y tulisannya, ni bisa jadi masukan bahan skripsi q, mohon ikhlasnya
bisa diberdayakan jama’ah tablighnya … gerakan bina imannya yg luar biasa. insyaAllah
Semoga masjid di kebumen tidak berfungsi untuk mencetak kaum khawarij. Amiiin…