Kudeta Imam

Cerita ini adalah nyata terjadi di salah satu masjid di kabupaten saya.

Pada suatu hari Jum’at, di satu masjid didirikan shalat jum’at. Ini adalah kisah jum’at kelabu, jumat yang penuh sejarah, kenangan dan hikmah. Ketika bacaan tahyat sudah cukup dibaca oleh para jama’ah dalam rekaat kedua shalat jum’at, semestinya imam kemudian mengucapkan salam sebagai tanda selesai shalat yang diikuti jama’ah. Namun tidak dengan kyai Abu (nama samaran) dalam menjadi imam di masjid itu. Setelah kira-kira jama’ah selesai membaca tahyat, jamaah tinggal menunggu salamnya imam. Namun, imam tersebut tak kunjung mengucapkan salam. Suasana hening sejenak, lama-lama ada yang batuk kecil terdengar dari shaf belakang. Shaf terdepan bahkan mengucapkan “subhanallah” sebagai pengingat jangan-jangan sang imam lupa, Imam tidak kunjung salam. Begitu juga disusul jama’ah lainnya mengucapkan “subhanallah” sampai tiga kali. Semakin yakinlah para jama’ah menduga bahwa sang imam tertidur. Suasana hening tidak karuan, lalu salah satu orang di shaf terdepan menggerakkan badanya sedikit maju kedepan dan mengucapkan salam dengan keras untuk mengakhiri shalat Jum’at itu dengan menggantikan peran imam (kudeta Imam), kemudian di susul dengan sebagian jama’ah lain. Sebagianya lagi belum mengikuti salam dari imam darurat tadi karena sebagian jamaah mengenal suaranya kalau itu bukan suara kyai Abu. Namun kemudian nampaknya kyai Abu tergugah mendengar jama’ah sudah pada salam dengan keras dan kyai Abu pun mengucapkan salam, sambil mengucapkan “Astaghfirullahal ‘adzim”. Rupanya, kyai Abu reflek menyadari bahwa dirinya sempat tertidur ketika menjadi imam. Kyai Abupun bergegas menyalami jama’ah shaf terdekat sambil bisik-bisik dengan muka merah dan pucat.

Kisah diatas, sontak membuat geger para jama’ah, menjadi bahan ketawaan dan ada juga yang merenung nasib shalatnya sah atau tidak, ada juga yang menyalahkan khatib dalam berkhutbah terlalu lama, sehingga kyai Abu kecapaian (kebetulan kyai Abu, sedang tidak mendapat giliran berkhutbah). Kabar tersebut juga cepat menyebar ke desa tetangga. Sampai Jum’at depannya lagi, Kyai Abu sudah mendeklarasikan diri untuk tidak menjadi imam shalat Jum’at karena khawatir akan tertidur lagi. Kyai Abu kemudian menunjuk seseorang untuk menjadi Imam Shalat Jum’at yang biasa menjadi pengganti pada shalat sehari-hari jika Kyai Abu berhalangan hadir. Sampai sekarang Kyai Abu tidak pernah lagi mau menjadi Imam Shalat Jum’at. Jama’ahpun menyetujuinya karena melihat kyai Abu sudah sepuh hampir mencapai 80 tahun lebih. Tetapi Kyai Abu masih mau menjadi imam shalat sehari-hari dan perlahan mulai di gantikan oleh putranya. Kyai Abu sampai sekarang masih tetap sehat, waktunya di habiskan untuk beri’tikaf di masjid, rumah kyai Abu persis di depan masjid itu.

Semoga menjadi hikmah bagi pembaca.

  1. 04/10/2009 pada 08:24 | #1

    peristiwa yang tentu saja mengandung himah bagi siapaun yang mengalami, maupun membaca / mendengar cerita ini …

    Salam Hangat Selalu dari AbulaMedia

  2. 04/10/2009 pada 13:25 | #2

    wah..mesakke pak kyai ne, wis sepuh…next generation harus siap mengganti :D

  3. 04/10/2009 pada 14:02 | #3

    wah, sudah sepuh juga ya kyai abu itu.. wajar saja jika beliau sempat tertdur saat jd imam. bisa jd beliau waktu itu sdh menyelesaikan bacaan tahiyat, ttp memberi waktu sedikit bagi para jamaah yg barangkali msh belum selesai bacaannya. krn kuasa Allah, kyai abu diberi kantuk.
    regenarasi imam yg cukup unik. suatu bentuk kewaskitaan kyai abu..

  4. 04/10/2009 pada 23:06 | #4

    Sebenarnya itu bukan KUDETA… memang begitulah seharusnya ketika Shalat Berjama’ah… Baik yang jadi IMAM ataupun MA’MUM, keduanya harus sama – sama mengetahui bagaimana menjadi IMAM dan bagaimana menjadi Ma’mum…

    Dalam kasus diatas, jelas ma’mum yang kemudian menggantikan si imam adalah ma’mum yang memiliki pengetahuan tentang shalat berjama’ah. Kalau kemudian ada ma’mum lain yang bertanya – tanya tentang sah tidak nya shalat mereka… jelas ma’mum – ma’mum ini harus belajar lagi tuh fiqih nya, atau ilmu agamanya. :)

  5. 04/10/2009 pada 23:08 | #5

    Ah iye lupa… kalau posisinya tahiyat mah… si ma’mum nggak perlu maju kok… cukup keraskan suara salamnya aja :)

    Masa di posisi duduk, masih bergerak maju??? ^_^

  6. 04/10/2009 pada 23:41 | #6

    regenerasi penting… bahkan dalam sebuah organisasi ada slogan kaderisasi atau mati!

  7. 05/10/2009 pada 01:45 | #7

    yah begitulah regenerasi per kyai an di masjid dan mushalla. perlun diupayakan agar regenerasi itu tidak harus menunggu wafatnya Imam. Kyai Abu belum wafat, tapi perlahan menyerahkan kepada putranya, yang lebih muda.

  8. 05/10/2009 pada 02:39 | #8

    Subhanallah, demikian cara Allah swt, menyayangi hambanya,
    DIA menyentuh langsung ke hati para jamaah, agar segera diadakan regenerasi.
    Semoga amal ibadah Kiayi Abu, diterima oleh Allah swt, dan semoga beliau selalu sehat dlm menjalankan i’tikafnya, amin.
    Salam.

  9. 05/10/2009 pada 03:10 | #9

    hahaha..lucu!

  10. 05/10/2009 pada 03:19 | #10

    Mas Badruz …
    Cerita ini bagus Mas …

    Ada haru
    Ada hikmahnya
    Ada pelajarannya
    Ada lucunya juga

    Saya terus terang mencoba mengkaji …
    Bagaimana perasaan pak Kyai Abu saat itu …
    Ah kasihan sekali beliau …
    Mungkin kondisi fisik yang menurun … bisa pula karena kelelahan …

    Salam saya

  11. 05/10/2009 pada 03:47 | #11

    saya kira manusiawi mas, soal di bayangkan rasanya….ya bayangkan saja..he…

  12. 05/10/2009 pada 04:40 | #12

    wuaduhhhhhhh.. makanya jd pemimpin gak boleh terlena, bisa dikudeta tuh..itu kayaknya saking fokusnya membaca ayat ya.. weleh..weleh..

  13. 05/10/2009 pada 04:46 | #13

    mungkin, malam sebelumnya begadang kali kyai Abu dengan berdzikir…sehingga kurang tidur…

  14. 05/10/2009 pada 08:17 | #14

    Usia 80 memang sudah sepuh dan kejadian tersebut merupakan peringatan agar mandat Imam diserahkan kepada Ustadz/Kiyai yang lebih muda.

  15. 05/10/2009 pada 08:29 | #15

    mungkin saja pak. kebetulan juga bisa…he..

  16. 05/10/2009 pada 23:17 | #16

    makanya, kalau khutbah jum’at tidak usah terlalu lama. bukankah yang di sarankan shalatnya yang diperpanjang. tapi malah khutbahnya yang di panjangkan..

  17. 05/10/2009 pada 23:50 | #17

    Assalamualaikum, salam kenal mas Badruz…

    Subhanallah, melalui kekeliruan (yang tidak disengaja) tersebut ALLAH menyampaikan pesannya agar segera dilakukan regenerasi. Karena tentunya masih banyak para pemuda yang bisa tampil menggantikan para sesepuh. Semoga kita bisa mengambil pelajaran.

    Mas blog mu aku link yah, terima kasih.

  18. 06/10/2009 pada 00:03 | #18

    sumonggo mba rita. demikian juga saya persilahkan pembaca yang sama dengan pinta mba rita. tanks,

  19. 06/10/2009 pada 04:58 | #19

    Tapi salut deh sama kiai Abu yang terlihat tawadhu’. Soalnya aku dapet cerita, di suatu kampung ada kiai yang kalo ketinggalan sholat jamaah, dia gak mau berimam dengan imam yang ada. Dia sholat sendirian di mushola/masjid itu, sedangkan orang lain sedang sholat jamaah.

  20. 06/10/2009 pada 05:29 | #20

    ha…ha…egois sekali ya…

  21. 06/10/2009 pada 11:52 | #21

    blue pasti antara ikutan tidur dan berharap ada nilai plus plus sholat jumatnya heheh….
    salam hangat selalu

  22. 06/10/2009 pada 22:09 | #22

    shalat jum’at yang penuh hikmah.

  23. 09/10/2009 pada 20:46 | #23

    kasian kyai Abu, seharusnya para jamaah bisa memakluminya
    Slm knl mas badruz :)

  24. 10/10/2009 pada 00:09 | #24

    salam kenal juga mas afif.

  25. Kang Bowo
    18/10/2009 pada 13:45 | #25

    Dadi kelingan kanca lawas jenenge muridan. Saking kesele tugas menwa pas sembayang tarawih keturon pas sujud nganti salam

  1. 30/12/2009 pada 15:25 | #1

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.