Beranda > Budaya / Tradisi, Cerita, Forum, Jam'iyah, Ormas, LSM > Organisasiku Yang Malang…

Organisasiku Yang Malang…

Pengalaman organisasi saya terakhir adalah di Lakpesdam NU. Sebelumnya juga di lembaga-lembaga NU, tapi tak pernah aktif. Sebelumnya juga pernah di beberapa LSM baik sebagai tenaga kontrak maupun pernah sebagai pimpinan LSM local. Lakpesdam NU juga tak ubahnya seperti LSM, hanya di bawah naungan NU. Sehingga, koordinasi geraknya dengan NU dan diawasi oleh NU. karena lingkungan saya mayoritas NU, dan juga kedua orang tua saya juga NU, bahkan mereka berdua pernah aktif di pengurus NU tingkat kecamatan. lalu, apakah ini dinamakan ber NU warisan, atau ber aswaja warisan dari orang tua?. pertanyaan ini muncul bagi saya sama saja seperti apakah saya berIslam itu karena warisan. coba saja, kalau kita di suruh memilih agama mana yang kita cocoki dan kita dalam keadaan yang netral. bagi saya, tidak demikian. Berislam itu bukan hanya sebagai pilihan hidup setelah dewasa, namun sebagai taqdir saya. begitu juga dengan ideologi Aswaja adalah sebuah pilihan hidup saya. berpegangan kepada alqur’an dan hadits adalah yang utama. sedangkan berpegangan kepada qaul sahabat, tabi’in dan ulama adalah pegangan selanjutnya, baru saya pergunakan otak sehat saya. bukan berarti, tidak punya kebebasan berpikir. namun, untuk berpikir bebas, kita harus memahami landasan berpikir bebas sekehendak saya agar kebebasan berpikirnya tidak keluar dari garis ajaran Aswaja dan kehidupan umum.

NU adalah sebuah organisasi sosial keagamaan. salah satu tujuannya adalah menjaga ideologi ahlussunnah wal jama’ah ala Indonesia, dimana Islam masuk ke Indonesia dengan mempengaruhi budaya yang beraneka ragam sehingga terjadi apa yang disebut akulturasi budaya. tentu, semua itu dilandasi dengan al qur’an dan hadits serta qaul sahabat, ijmak dan qiyas.

NU selalu meletakkan agama di atas segala-galanya. walaupun banyak terjadi akulturasi budaya yang dibalut dengan nilai agama, bukan berarti ada ajaran baru dalam Islam, tetapi sungguh meletakkan agama diatas budaya. kita di Indonesia, tidak mungkin terlepas dari budaya sekitar kita maupun budaya yang kita ciptakan sendiri. makanya, tuduhan kepada NU itu sebagai gudangnya ahli bid’ah, cukup di sudahi saja lah. karena Nabi SAW tidak mengajarkan kepada ummatnya untuk mengaku golongan yang paling benar. Islam tidak akan maju kalau saling tuduh bid’ah, sementara kelompok NU juga menuduh kepada penuduh bid’ah dengan sebutan bid’ah modern.

lalu, ada juga yang mengatakan bahwa Islam tidak maju-maju itu karena bid’ah di Indonesia dilanggengkan oleh warga NU mulai dari tukang becak, kyai, gus, habib, dll. sangat berlebihan tuduhan itu. karena dengan menuduh seperti itu, seseorang telah menafikan sejarah Islam, sejarah para ulama dalam berjuang mensyiarkan Islam yang tidak lepas dari budaya setempat. kenyataannya, Islam berkembang oleh para wali, dengan meyelami budaya setempat, dan melestarikan kegiatan-kegiatan yang banyak orang menyebutnya dengan kegiatan bid’ah. padahal para penyebar Islam juga berlandasakan syari’at agama. jarak antara kita dengan masa Rosul SAW sangat jauh saudara!, janganlah mengaku kelompok yang paling dekat dengan alqur’an dan hadits. karena jika itu dilakukan, itulah bid’ah modern, karena belum tentu anda paham dan mengamalkan 100 persen perintah dan larangan al quran dan hadits.

tentang organisasi NU

sebagai warga NU yang ada di desa, saya sangat mengharapkan keberadaan NU akan membawa kemaslahatan di Indonesia ini yang berujungan pada percepatan kesejahteraan warga atau masyarakat. itulah tugas NU terhadap warganya kepada pemerintah atau negara. NU buabar, saya tetap tahlilan dan yasinan. NU semestinya jangan adem ayem dengan eksistensi pondok pesantren, kyai gus, warga desa (yanhg di klaim NU karena mereka tahlilan). tanpa NU, mereka bisa tahlilan dan sebagainya. itulah mengapa sebetulnya warga NU itu bukan benarbenar menjadi anggota NU secara organisasi, tetapi menjadi pengikut ahlussunnah wal jama’ah, yang kebetulan ideologi ini ada di organisasi NU. kita bisa lihat, ajaran aswaja dan budaya unik yang di bawa para wali songo sudah ada sebelum kelahiran NU. saya bukan mengecilkan peran KH Hasyim Asy’ari dalam mendirikan NU. jelas, beliau dkk sangat besar jasanya dalam melanggengkan ajaran aswaja di Indoensia bahkan beliau juga pahlawan nasional. artinya, beliau juga mencontohkan perjuangan tidak hanya bidang agama, tetapi bidang kenegaraan dan pemerintahan untuk kemaslahatan rakyat. saya kira, ini yang belum terjadi di NU. NU harus mempunyai posisi tawar terhadap pemerintah untuk efektivitas dalam memperjuangkan nasib warganya. lho apa tidak tumpang tindih dengan peran partai?, ya jelas tidak thoh. wong partainya pada mandul kok!. tidak usah mengandalkan partai.

jadi, sebagai warga NU di desa, saya adalah termasuk orang yang tidak perlu memandang berlebihan bahkan rebutan kepengurusan di tubuh NU. terlebih, dengan maksud sebagai batu loncatan, misalnya ingin jadi pengurus ma’arif, guru ma’arif, dosen STAINU, mudah akses partai, dekat dengan kyai, gus, habib. bagi saya itu semua tidak penting. yang penting adalah saya mantap dengan pilihan saya berislam ala aswaja ala Indonesia.

lalu, ber NU berarti harus berorganisasi? nah disinilah persoalannya. NU mestinya tidak adem ayem dengan klaim warganya paling besar di dunia. buat apa klaim itu. jika NU, tidak ingin di tinggalkan warganya, maka harus ada terobosan untuk menjaga mereka simpatik terhadap NU. toh, mereka tidak ber NU, tidak masalah. yang penting mereka hidup di desa dengan tahlilan, yasinan, rajaban, muludan dan sebagainya, sudah terpusaskan sebagai media penguatan keimanan kok.

Keprihatinanku dalam kancah nasional.

Sebagai pengikut ahlissunnah waljama’ah, yang kebetulan identik dengan ormas NU. Ini karena NU memakai ideology tersebut. Tetapi, keduanya adalah hal yang berbeda sama sekali. NU bicara organisasi, urusan keduniaan atau urusan dunia sebagai media ibadah menuju kemaslahatan ummat. Sedangkan Aswaja adalah urusan keyakinan dan Islam. Mulanya, hanya berkutat pada persoalan otak, persoalan berpikir dan persoalan bagaimana memahami alqur’an dan hadits secara lebih mudah dan lebih kaaffah. Ingat, ideology aswaja bukan merupakan syari’at baru dalam Islam. Melainkan –salah satunya—paham keagamaan, karena kontens ajaran aswaja sendiri merupakan pemahaman syari’at dalam Islam.

Mengapa pengikut aswaja paling banyak di dunia, dan dimana-mana mengaku aswaja tetapi perilakunya mengundang kontroversi. Itu karena ahlussunnah wal jamaah merupakan akronim dari “ma anaa ‘alaihi wa ashhaabii” dalam sunnah Nabi SAW. Hadits ini shahih dengan sanad yang kuat. Yaitu, yang mengikuti Nabi SAW dan sahabat Nabi SAW. Kelompok inilah yang dalam hadits akan masuk surga sedangkan 72 firqah lainnya masuk neraka. Tentu, sebagai pengikut aswaja tidak baik jika memahami hadits dari kata-kata bahasa saja tanpa mempelajari ilmu hadits tentang asbabul wurud hadits. Ini perlu di lakukan oleh kita-kita pengikut aswaja agar tidak keliru dalam memahaminya dan tidak menggunakan sebuah hadits untuk minteri orang lain. Cirri pengikut aswaja adalah paham akan sejarah perjuangan Nabi SAW, Sahabat, Tabiin, dan para ulama Mujtahidin. Sehingga, memahami Islam tidak tekstual saja. melainkan fleksibelitas, rahmat, damai, anti ekstrim, moderat, akan di dapat dalam memahami hal fundamental tadi.

Aswaja lebih dekat dengan persoalan keyakinan dalam Islam. Pada perekmbangan 10 tahun terakhir, aswaja di interpretasikan sangat beragam. Intinya agar bisa menjadi metode dalam berpikir, bertindak, bergerak, berorganisasi dan ber-ber yang lain. Seringkali, orang mengatakan jika seseorang di sekitar lembaga NU berperilaku tidak baik, menjadi bahan omongan dengan mudah disimpulkan; oh…itu karena dia tidak matang dalam memahami ideology aswaja.

Terlepas dari klaim-klaim atau anggapan dan tuduhan siapa yang paham aswaja, ini memang harus di refleksikan bersama teruatama di kalangan orang NU yang menjadi pengurus. Bisa saja benar, orang menjadi pengurus NU, dengan tidak paham ideology aswaja secara kaaffah. Misalnya, karena menjadi pengurus NU karena keturunan, karena pangkatnya, karena hidup di kota, karena kaya dan lain-lain. Terlepas dari benar dan tidaknya, tak perlu lah mempersoalkan hal yang demikian.

Yang perlu di bedakan adalah bahwa aswaja itu bukan NU dan NU jelas bukan aswaja. Tetapi, keduanya memang dianggap mempunyai hubungan yang sangat erat dalam konteks di Indonesia. Karena pada kenyataannya, ahlussunnah wal jamaah ada di semua penjuru dunia utamanya di timur tengah dan sekitar timur tengah. Di Indonesia eksistensi NU memang berkaitan dengan pelestarian, pengembangan ideology aswaja dengan motor para ulama terdahulu hingga generasi KH Hasyim Asy’ari. Salah satu didirikannya NU pada tahun 1926 adalah untuk media yang efektif dalam komunikasi para tokoh ulama dalam mempertahankan aqidah aswaja. Tentu, ala Indonesia, yang dimaksud adalah aswaja sudah mengalami reinterpretasi ulang karena akulturasi budaya local Indonesia. Bukan berarti akluturasi budaya adalah bentuk ajaran baru dalam NU. NU meletakkan agama di atas segala-galanya termasuk di atas budaya.

Menjadi pengurus di NU, menurut saya mutlak di perlukan orang-orang yang paham akan ideology ahlussunnah wal jamaah baik secara harfiah, epistimologis maupun perkembangan reinterpretasi terkini. Bukan berarti menafikan factor nasabiyah, keturunan atau factor lainnya. Tetapi, ini memang perlu diformulasikan dalam kesepakatan keorganisasian di NU, jika NU ingin maju seperti NU ketika baru saja didirikan oleh KH Hasyim Asy’ari dkk. Minimal, NU kedepan seperti kepemimpinan waktu Gus Dur.

Waktu Gus Dur, NU benar-benar diposisikan di ranah rakyat. Nyaris tidak terlibat dalam urusan politik praktis. Ini memang, Gus Dur tegas dalam memaknai arti khittah 1926. Pengurus NU, tidak perlu marah ketika dua peridoe kepemimpinan KH Hasyim Muzadi, terlibat dalam urusan politik baik pilkada bupati, pilgubg, pilpres 2004, 2009 dan urusan politik praktis lainnya. Secara organsiasi, memang dua periode ini NU netral tidak terlibat dukung mendukung. Tetapi secara personal kepengurusan, yang kadang dilakukan dengan massal dan menggunakan fasilitas organisasi, nyata-nyata terlibat. Sekali lagi, kritik demikian tidak perlu lah pengurus NU marah dan emosi.

Baru, ketika dukung-mendukung mengalami kekalahan, semua lari menghindar mengaku tidak terlibat. Menurut saya, ini tindakan pembodohan. Yang mana, warga NU di bawah bisa mendengar dan menilai perilaku yang demikian. Ini terjadi di banyak kabupaten khususnya di pulau Jawa. Bahkan di tingkat pengurus PBNU dan lembaga-lembaganya. Lihat saja tuh pasca pilpres 2009, saling tuduh, saling menyalahkan keterlibatan “orang-orang” NU dalam mendukung JK-Wiranto. Lagi-lagi, perlu dalam muktamar 2010, dirumuskan arti khittah1926 secara lebih paten, tidak mengundang penafsiran subyektif dan di jadikan pembenaran dalam bertindak pribadi maupun kelompok.

Dalam sejarahnya, Islam juga tidak bisa di lepaskan dari faktor politik pada waktu itu (khilafah). Tetapi, berbeda sama sekali dengan kondisi politik zaman sekarang. Bicara sejarah aswaja juga tidak bias lepas dari urusan politik kekuasaan pada abad 1 sampai abad 3 Hijriyah. Bahkan, urusan ideology, ibadah pada waktu itu sering dikaitkan dengan kekuasaan. Mengapa aswaja tidak lagi dijadikan landasan berpikir para orang-orang NU dalam urusan politik?, itu karena situasinya berbeda. Di dunia hamper sudah tidak ada yang menggunakan system khilafah. Barangkali, jika di Negara Islam, politik bias menjadi perjuangan agama. Politik untuk agama. Tetapi, agama bukan untuk politik. Tetapi, di Indonesia memang benar-benar beda kondisinya dengan timur tengah, atau sekitar Arab. Sehingga menggunakan ayat atau hadits untuk kepentingan politik, banyak tidak di benarkan di Indonesia. Barangkali, karena tidak tepat ya kondisinya. Bicara soal Negara dan agama, seperti halnya bicara NU dengan Aswaja. Keduanya adalah hal berbeda sama sekali. Tetapi, dalam kontek tertentu, prosesnya, kepentingannya, saling berkaitan. Tetapi, agama dan Aswaja menempati posisi yang tak terkalahkan alias posisi yang sacral dan dekat dengan urusan dosa.

Al hasil, kedepan harus ada upaya yang sistematis agar para generasi selanjutnya dalam memahami aswaja itu tidak sepotong-sepotong dan sekarepe dewek termasuk mungkin saya memahami aswaja sekarepe dewek. Ini karena, dilingkungan NU atau lingkangan saya tidak diajarkan pendidikan aswaja yang sistematis dan kaaffah. Banyak dari kita mempeljari aswaja ya dari hasil belajar kita sendiri dan berinteraksi dengan orang lain, bukan dari organsasi NU.

Keprihatinanku di kancah local.
Lalu, di NU ngapain saja?

Keprihatinanku adalah; (1) Tidak ada hubungan yang jelas antara NU dengan warganya. Ticdak nada hubungan yang sistematis antara PCNU dengan NU ranting. Jenjang kepengurusan hamper saling mengandalkan. PBNU mengandalkan PWNU, PWNU mengandalkan PCNU, PCNU mengandalkan MWCNU, MWCNU mengandalkan PRNU. Dalam kondisi tertentu, memang harus berlaku demikian. Tetapi dalam banyak kondisi menuntut adanya relasi yang sistematis antar jenjang pengurus di setiap wilayah, kabupaten, kecamatan dan desa. Kondisi 2 periode terakhir, sebetulnya menuntuk akan adanya pilihan kondisi ke dua. Baik untuk bicara ideology maupun bicara organisasi ansih. (2). Persoalan ideology kontemporer. Utamanya adalah pemahaman ideology politik. Biacara politik pada tataran ideologis tentu berbeda sama sekali dengan biacara politiki praktis. Karena di pemahaman politik pada tataran ideologis, mendorong untuk paham terhadap hal praktis. Sementara ini banyak orang, ormas bertindak praktis tanpa memahami pengting dan tidaknya, dampaknya. Ini karena jauh dari pemahaman politik secara ideologis. (3). Banyakanya tafsir terhadap makna khitthah 1926. hanya dijadikan justifikasi organisatoris. Tetapi kurang menyentuh ranah pemahaman personal. Sehingga justru menjadi pembenaran untuk bertindak atas nama warga Negara bukan atas nama pengurus NU yang harusnya netral. (4) Kegiatan banyak berpusat di kota saja, alias di PCNU saja. kita bias lihat nyaris tidak ada kegiatan di pengurus ranting NU di semua kabupaten di Kebumen ini, yang mungkin juga terjadi di banyak kabupaten di seluruh Jawa ini. Sehingga banyak miss kounikasi, mis understanding dan miss-miss yang lain terjadi pada sesame pengurus NU di masing-masing jenjang. (5) Tidak jelasnya pengelolaan lemabaga NU yang menghasilkan provate. Se bagai contoh, LP Ma’arif harus jelas kontribusinya terhadap PCNU, karena LP Ma’arif punya banyak sekolah. Selama ini sudah terdengan simpang siur, kalau NU sudah cukup dana untuk membiayai banyak program dan kegiatan. Disisi lain informasi itu tidak benar. Mana yang benar-mana yang salah, tidak tahu. Kadang, PCNU juga dituntut untuk memberikan program stimulant, rangsangan, motivasi, stimulant dana jika PCNU memakai system mengandalkan kepengurusan di bawahnya. Ini harus transparan, karena persoalan ini sudah melebar di masyarakat umum, kalau PCNU itu kaya, karena sekolahnya sangat banyak.

Tentu, tulisan saya diatas, mungkin baru sedikit refleksi dan sedikit orang yang merefleksikan hal tersebut. Tentu, bukan maksud menjatuhkan dan menjelekkan serta menafikan upaya pengurus. Tetapi, ini juga harus di tindak lanjuti kalau NU ingin tidak sekedar ada dan ingin mencapai mabadi khaira ummah.

About these ads
  1. 14/10/2009 pada 07:02 | #1

    terima kasih telah membuat tulisan ini Mas Badruz,
    saya jadi mengetahui lebih banyak dan jelas ttg NU.
    Bagi saya pribadi, tidaklah elok, utk mengatakan bahwa kita adalah yg paling benar, seperti yg Mas Badruz tuliskan diatas.
    Hanya Allah swt yg paling benar satu2nya.
    Semoga Allah swt tetap memelihara keislaman dan keimanan kita, amin.
    Salam.

  2. 14/10/2009 pada 07:15 | #2

    terima kasih bund. semoga kita semua dijauhkan dari perbuatan dan tingkah laku tidak baik. jika banyak tulisan dari saya banyak yang tidak baik, insyaallah dengan berinteraksi di dunia maya ini, saya percaya akan membawa pola pikir yang lebih baik baik tentang agama, dunia, dll.

  1. Belum ada trackback.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: