Membuka Tali ‘Pocong’
Maklum, sekitar rumahku belum begitu padat, masih lebat pepohonanya, banyak tempat gelap. Dekat dengan beberapa pekuburan. Pekuburan di desa, gelap. Tidak seperti di kota, pekuburan terang benderang, hingga tak ada isu hantu dan pocong gentayangan. Katanya, hantu takut sama cahaya, tapi tidak takut sama terowongan.
Di waktu bapak saya meninggal dunia, saya ada di sampingnya, ikut memandikannya, melihat di kafaninya, ikut menggotongnya ke pemakaman, ikut masuk ke dalam liang lahad bersama adik dan saudara sepupu. Merupakan kebiasaan umum di desa saya. Bila anggota keluarga ada yang meninggal keluargalah yang mengurusnya dengan di bimbing oleh kaum desa.
Saya ikut memandikan, membawa dan membuka tali “pocong” di dalam liang lahad. Beda dengan di kota. Barangkali sudah ada tim yang biasa mengurusnya.
Saya melakukan itu semua dengan mengalir. Sebelumnya, untuk melihat kerabat yang meninggal sedang di mandikan saja tak berani. apalagi kalau matinya malam jum’at, saya nyaris tak berani lewat kuburan itu. Saya tidak percaya hantu pocong dan kawan-kawannya, tapi entah kenapa pernah saya takuti.
Ketika saya masuk ke liang lahad untuk menerima jenazah bapakku dan membuka tali pocongnya, sedih dan tetesan air mata pun berhenti. Saya berpikir, kelak saya akan demikian. Ingat mati, bahwa diri ini semua akan mati. Hanya Allahlah yang mestinya di takuti.
Sejak itulah saya tidak percaya akan hantu pocong dan kawan-kawannya, akan kegelapan, tempat angker, kuburan yang gelap sekalipun sanggup saya lewati di malam hari. Waktu itu, saya sering pulang tengah malam ketika lembur bekerja, bersepeda. bayangkan kalau hujan. sudah gelap, becek lewat jalan samping kuburan lagi.
Aneh memang, phobia terhadap hal-hal yang berkaitan dengan mayit dan tempat anker hilang dengan sendirinya seiring dengan bertambahnya usia kedewasaan. Barangkali, bersahabat sejenak dengan pocong, menghilangkan itu semua.
Pocong adalah bagian kain atas pada kafan mayit yang diikat untuk di buka ketika di makamkan.
Bagaimana pengalaman anda?
(maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?!
Phopbia yang akhirnya hilang, ya. Terima kasih buata Bapaknya.
Wah asiknya kalo dah gak “takut” lagi…saya masih aja parno hiks
pengalaman saya menghadapi sakratul maut dua kali mas..
terakhir, tetangga samping rumah. untung di sdh punya pengalaman sebelumnya. sesaat stlh ia meninggal, saya menutupkan matanya dan mengatupkan mulutnya dng cara mengikat dng tali di kepalanya. kemudian melepaskan semua pakaiannya. pengalaman itu saya tulis di sini
Tidak semua orang, keluarga berani Gus. kalau kaum desa atau petugas desa sih memang sudah pekerjaannya. Biasanya sih seorang anak akan berani dengan sendirinya menghadapi mayyit di kala waktunya tiba. uih..serem amat nih bahasanya. sesekali boleh kan. masa postingan yang serius terus. padahal soal mati, jauh lebih serius ya
benar mas badruz , bundo dulu juga takut bila mendengar ada tetangga yang meninggal.. tapi semua rasa takut itu hilang saat ayah berpulang. memang benar ternyata rasa takut itu harus dihadapi bukannya dihindari.
Sama dong bundo.
Waktu mertua meninggal, saya juga kebagian semua tahapan tersebut Mas. Lha yg paling membuat saya panik adalah saat kebagian membuka tali pocong. Disamping grogi karena amanatnya harus terlepas sempurna itu tali, juga karena tali ikatan pak Modin itu luayan kuat jadi susah lepasnya.
Bahkan setelah dikuburpun masih terlintas, tadi sudah lepas beneran belum ya? TApi ya sudahlah pasrah saja. Yang penting sudah nggak takut menghadapai urusan orang meninggal. Cuma kalau misal ketemu hantu beneran tauuu…ahh. Nggak kebayang.
Saya belum pernah mengurus jenasah mas.
BTW : setelah saya cek di email, alamat penjenengan belum masuk. Tolong dikirim ulang ke decholik@gmail.com.Pastikan alamat lengkap mas.
Terima kasih.
Salam hangat dari Surabaya
Baik Pakde, saya akan kirim ulang.
Kebetulan saya bekerja pada sebuah indutri kehutanan, jadi melihat dan menyaksikan orang menghadapi sakratul maut dan mengurusi jenazah sudah cukup sering. Alhamdullilah, Allah selalu melindungi saya dari hal-hal yang membuat saya menjadi penakut. Tetapi pernah juga sih, jika teringat akan kejadian-kejadian tersebut bulu tengkuk saya jadi meremang.
ha..ha..sama ams, kadang2 kan boleh lah
Saya udah gak takut lagi sejak diajarkan bahwa hantu dari meninggal itu gak ada…yang ada hanya setan…dan setan emang kerjaannya tukang godain manusia…jadi yah ngapain takut…itu udah kerjaannya dia…
Kata Pak ustadz sih gitu. hantu nggak ada. yang ada iblis atau syetan yang menyerupai sesuatu untuk menakuti manusia
he he, jadi ngukur diri nih Mas, saya sendiri takut sama gelap. Namun untuk ikut mengurus orang yang meninggal sejak SMP saya suka ikut bantu, termasuk pernah ikut memandikan dan menerima jenazah di liang lahaat. Tapi anehnya ketakutan terhadap gelap masih terjangkit sampai kini.
wajar to mas..
rumahnya mas badruz aik ya…adeeem! bicara soal takut, saya jadi parno kalo habis nonton pilem2 horor. makanya jadi ga suka deh sama pilem horor
Katanya, film horor bisa membuat jantung sehat mba
Dulu memang rasa takut terhadap peristiwa meninggal dan kuburan , ada Mas.
namun, makin dewasa dan makin mengerti kalau kematian itu pasti dan wajib bagi semua yg hidup.
akhirnya sekarang malah berpikir, apa yg bisa saya bawa kalau saya mati ?
salam.
betul bund. itu yang paling utama di dunia ini.
saat baca judulnya .. sempet berpikir ‘wah, pengalaman horor nih’
ternyata bukan ..
betul mas, kita semua suatu saat akan mengalami itu.
Cara Membuat Website
Horor banget mas
Judulnya buat bulu kuduk Tiwi merinding.
Ternyata bukan,,,
turut berduka cita
Duka cita di terima.
gitu aja merinding Mba
Jujur saja Om, saya males berpikiran tentang hal-hal horor begitu. Mau pocong kek, kuntilanak, memedi, tuyul, masa bodoh lah. saya suka berpikir hal-hal yang sesuai dengan tuntanan agama saya aja kok tentang hal-hal ghaib seperti itu.
itulah kenyataan yang ada pada sebagian amsyarakat kita. apalgi di TV tuh, uih…visualisasi hantu ada-ada saja….membuat anak-anak sekarang percaya kalau hantu itu ada.
kalau saya nggak takut bung tapi malu
pernah kepethuk Hantu dong
Saya sering ikut mengantar mayit ke liang kubur karena memang saya juga di Desa, cm hinga saat ini saya blm pernah diminta untuk memandikan atau hal-hal yg berurusan dengan membuka tali pocong. ktanya mereka sih saya masih muda, tunggu waktunya.salam hangat Pak.
huuuuuu saya paling takut dengan pocong,apalagi ikut ngurus dalam penguburan.waktu ikut mengubur buda saya duluh aja sampai kebayang pocong itu seminggu lebih.hehehehe
terimakasih atas kunjunganya dan jika berkenan bolehkah tukeran link?
salam hangat dan KBM
Monggo saja. makanya, dulu lebih baik memegang dan membukanya, jadi justru nggak kebayang terus.
waktu orangtua saya meninggal juga tidak ada perasaan takut mas yang ada sedih, tapi kalo orang lain ..ko beda ya, salam kenal mas ditunggu kunjungannya….