Pengembangan Kinerja Satgas PMH
Terjadi tidak hanya di Jakarta saja. Pemberantasan mafia hukum di daerah juga sangat penting, karena peraturan tentang peradilan dan perhukuman mestinya berlaku tetap tidak surut, tidak hanya di daerah tertentu saja.
Walau mafia hukum di daerah barangkali tak sebesar, tak seheboh di Jakarta, tetap saja harus di berantas bila bicara supremasi hukum. Di daerah malah tumbuh dan berkembang sangat subur. Kecil, tapi ada di mana-mana bagai jamur.
Itulah sebabnya kerja Satgas PMH perlu di perluas, entah bentuk wilayah geraknya maupun pengembangan secara kelembagaan yang di tambah, cabang di propinsi atau di daerah.
Bicara soal PMH, sepertinya juga sangat perlu di bentuk satgas Pemberantasan Mafia Proyek(PMP), sebagai bentuk perluasan kerja satgas PMH atau merupakan institusi tersendiri bentuka Presiden. Mafia proyek juga ada di mana-mana. Tak terkecuali di daerah. Mafia proyek juga tumbuh subur sama seperti mafia hukum. Mafia proyek ada khususnya pada waktu implementasi atau pelaksanaan bantuan dari anggaran pemerintah (khususnya pemerintah pusat) dalam bentuk suatu kegiatan baik fisik, non fisik, pembangunan infrastruktur dan lain-lain jelas perlu di berantas.
Suburnya mafia proyek, juga menunjukkan supremasi hukum yang masih lemah. Mafia proyek, tidak hanya merugikan negara, tapi juga masyarakat. Adalah bentuk lain dari korupsi, akhirnya pekerjaanlah yang ambuardul dan rakyat menjadi korbannya.
Saya tak bosan-bosannya untuk memberi contoh mafia proyek pada satu dinas saja. Yaitu dinas pendidikan (Dikpora kabupaten). Misalnya pada program bantuan DAK Pendidikan untuk satu SD pada tahun 2008 sebesar 250 juta. 150 juta untuk fisik, dan 100 juta untuk peningkatan mutu atau non fisik seperti pengadaan buku perpustakaan, alat peraga pendidikan, computer dan lain-lain.
Untuk sampai SD menerima uang 250 juta itu tidaklah mudah. Banyak proses ilegal yang harus di lalui oleh kepala sekolah, dan tak pernah ada bukti fisiknya, jadi jarang/sulit yang terlacak. Banyak sunatan, banyak terjadi konspirasi antara rekanan dan oknum pejabat untuk keuntungan uang timbal balik.
Saya tidak bermaksud menuduh, tapi mari refleksi ini kita jadikan pelajaran bersama, agar kedepan lebih baik lagi. Ada oknum UPTD Dikpora, oknum dinas, oknum dewan, oknum LSM, bahkan oknum penegak hukum, dan banyak oknum lainnya. Semua itu bisa menyebabkan kualitas garapan menjadi jelek karena ada istilah bagi-bagi rejeki negara dalam pelaksanaannya. Sekali lagi, proses yang demikian nyatanya sulit sekali terlacak. Yang terdengar, hanyalah kasak kusuk bahwa banyak oknum terlibat.
Mari kita lihat konkritnya. Misalnya pada garapan untuk peningkatan mutu yang 100 juta itu. Anda bisa bayangkan, 100 juta itu uang yang banyak untuk satu kali bentuk bantuan, dan barang yang banyak jika uang itu di belanjakan dalam bentuk buku perpustakaan dan alat pendidikan lainnya.
Namun sudah menjadi rahasia umum, bahwa barang yang ada setelah di lihat-lihat dan di nilai tidak mencapai 50 juta. 50 juta bisa menjadi keuntungan rekanan/pihak jasa pengadaan barang. Mengapa demikian? Karena pihak rekanan mengalokasikan atau diminta mengalokasikan untuk para oknum pejabat di atas. Sekali lagi saya hanya berani mengatakan oknum, bukan institusi. Bahkan sudah menjadi rahasia umum juga bahwa keuntungan rekanan yang 50 persen atau 50 juta itu hanya 10 persen saja yang di terimanya dari nilai total 100 juta. 40 persen kemana? Inilah sering terdengar untuk di bagi-bagi banyak oknum di atas. Kenapa di bagi-bagi? Karena oknum-oknum itu terlibat dari proses sejak awal.
Anda bisa bayangkan. Berapa banyak duit itu jika di kalikan jumlah 100 SD penerima bantuan. Anda juga bisa bayangkan, contoh di atas adalah hanya pada satu bentuk kegiatan saja, bagaimana kalau kegiatan/bantuan itu berulang kali. Ini terjadi di banyak daerah kabupaten. Bagaiamana memberantasnya? Perlu di berantas karena memang di dalamnya ada unsur korupsi, setidaknya adalah kecurangan yang berakibat pada jeleknya kualitas garapan, dan dampaknya adalah anak didik kita yang seharusnya menikmati bantuan pendidikan itu dengan selayaknya jadi sebaliknya-ala kadarnya.
Semoga ini menjadi refleksi kita bersama, tentang perlunya pemberantasan mafia hukum (PMH) dan pemberantasan mafia proyek (PMP) di negeri ini.
Semoga postingan ini dapat menjadi informasi dan kritik yang membangun dan tidak berlebihan.
*******
Note: Artikel ini di ikut sertakan dalam lomba menulis atau BlogPost Competition yang di adakan oleh Mas Jody pemilik blog CeritaInspirasi.
Semoga mafia hukum baca ini. . .
enggak baca juga nggak apa2 mas
Saya baca sampai komplit lho Mas…
terima kasih Pak Mars…
mari kita mulai dari lingkungan sekitar kita dl mas..:d
butuh keberanian mba….
mulai dari diri sendiri saja…yang repot kan kalau tidak di mulai
artikel sangat mulia ni Mas. Kejadian seperti itu di era pemberantasan korupsi masih juga ada.
terima kasih Kang Yayat… kayaknya korupsi memang sudah bagian dari penyelenggaraan negara Kang..
negara kita memang semakin ga ‘ karuan
oh ya… yang namanya oknum itu khan sebagian kecil sedangkan biasanya kejahatan dilakukiann secara jama’ah, mungkin bisa usul nama baru bagi yang namanya OKNUM disebut ….apa kek…tikus, belut, anjing soalnya udah nggak berperikemanusiaan lagi bahkan ada dana buat warga miskin juga di embat, pendidikan di embat, proyek diembat, penggusuran diembat, hukum diembat…. warga jadi pusing mau gimana? lapor hukum ga’ mempan, demo dicekal, jadi penjahat teri hukuman berat! serba susah….
sebetulnya oknum melakukan itu karena dia berada di institusi/dinas tempat dia bekerja. dia merasa punya kekuatan, kewenangan untuk terlibat di dalamnya…. inilah repotnya kalau bicara oknum seolah dis erahkan ke moralitas masing2, padahal ada kesalahan sistemik juga…
jadi ingat dengan novelnya Ahmad Tohari: Orang-orang Proyek, berkisah tentang seorang insinyur yang idealis menjadi tersingkir dari dunia proyek karena kejujurannya mempertahankan idealisme nya dalam membangun jembatan harus sesuai dengan keilmuannya melawan kepentingan politik
jujur ajur mas
memang kalau sudah terjun didalamnya justru serba salah, kadang sudah berusaha jujur.. tapi kadang ada kondisi harus memilih, misalnya bisa menerima proyek tapi harus ada biayanya… pdhl proyek tersebut untuk kepentingan orang banyak… kita jadi bingung… mau nerima proyeknya harus melalui cara ilegal… tetapi kalau dilepas banyak perut lapar minta dikasi makan…
karena peraturannya atau pengawasannya yang sangat lemah, kadang lembaga yang mestinya jadi pengawas malah orang terlibat , jadinya nggak karuan deh..
sebenarnya yang perlu di perbaiki moral dan integritas individunya..bukan di atas satgas ada satgas, di atas kpk ada pengawas kpk dst…gak selesai-selesai deh..
bicara moral selalu sulit mas, makanya kudu ada langkah kongkritnya bagaimana gitu….
Susahnya semua mau ikut mencicipi bagian dari kuenya walau cuma sedikit, jadi ketika sampai kepada yang berhak, sudah tidak utuh lagi Harap maklum. Salam jepret!
bikin ngiler sih mas…
semoga PMH bekerja dengan baik dan jujur biar para mafia berpikir panjang untuk praktek kembali, semoga
semoga ya Mah…
semua ingin dapat bagian, sudah tdk penting lagi bagi mereka halal haramnya.
semoga kita dijauhkan dr hal2 mudharat seperti ini, amin.
salam.
iya Bunda…semoga kita di jauhkan dari syubhat dkk..
artikel ini critanya curhat? ha..ha…
CV-nya mas badruz kurang tebal amplopnya..
jaman reformasi urusan tender malah semakin ganas mafianya mas
ha…ha…ha…, itu kan dulu Gus
Artikel mantap dan inspiratif. Semoga menang ya, sob.
tanks mas
kereeenn..:D
eeh ikutan 2artikel yah..
mantappp…
3 malah Mba..
Yang pasti, mafia proyek pasti mengorbankan kualitas…..
ho..oh..Prof
Pemberantasan Mafia Proyek, ini mungkin yang perlu. Karena mereka sering melakukan mark up sehingga proyek menjadi amburadul
amburadul sih kayaknya enggak, tetap tertata rapih. kecurangan penggunaan dana sehingga mengurangi kualitas garapan, yah benar sih kadang menuju ke amburadul….
Mi sento molto robusto circa e vorrei saperne di più. Se va bene, come raggiungere la sapienza extra ampio, ti pensieri aggiungere altri articoli simili a questo con informazioni aggiuntive? Sarà estremamente utile e utile per me ei miei amici.
Grazie per le informazioni