Beranda > Cerita, Demokrasi, Forum, Hikmah/Ceramah/Ajakan > Memberantas Korupsi Retribusi KTP

Memberantas Korupsi Retribusi KTP

Tahun 2009 dan awal 2010 ini, kita masih di suguhi berita tentang korupsi melalui banyak media informasi. Saya tidak akan membahas tentang korupsi yang terjadi di Jakarta sana yang melibatkan para pejabat tinggi negara dan pengusaha. Bikin pusing kepala saja.

Saya lebih cenderung untuk membahas korupsi kelas kacang yang terjadi di daerah. Lebih dekat dan bisa jadi pernah menyaksikan langsung. Walau kecil nilainya, tetapi ada di mana-mana bak jamur yang langgeng subur tumbuhnya di era otonomi daerah ini. Saya ingin menyoroti soal korupsi pada sektor pelayanan publik yaitu soal retribusi KTP.

Retribusi pembuatan KTP di Kebumen tahun 2010 naik. Semula Rp.5000,- menjadi Rp.7500,-. Harapan banyak warga masyarakat dengan kenaikan ini, pelayanan juga meningkat bertambah baik.

Jika pada akhir 2009 lalu, mertua saya membuat KTP di kantor kecamatan dimana tinggal bisa mencapai 1 bulan dengan jalur normal, semestinya sekarang bisa di usahakan 3 hari saja seiring dengan kenaikan retribusi itu, syukur satu hari jadi.

Kemarin saya mendengar dari tetangga, bahwa pembuatan KTP yang semula di kantor kecamatan, sekarang 2010 beberapa kecamatan yang dekat dengan kota di pindah ke kantor Capil (Catatan Sipil) kabupaten, kembali lagi seperti dulu sebelum tahun 2000an. Namun katanya, belum bisa satu hari jadi. Satu minggu baru jadi. Hal ini karena pembuat yang sangat banyak.

Saya sepakat sekali dengan perpindahan pembuatan KTP itu kembali lagi seperti dulu. Katanya tetangga saya yang baru membuat KTP di januari 2010 ini, di kantor Capil itu retribusinya Rp 7500,- saja. Tidak ada tambahan atau pungli lainnya. Mungkin karena saking banyaknya yang buat, jadinya banyak yang mengawasi.

Ini berbeda kalau di kecamatan. Ketika 2009 lalu saya membuat KTP, waktu itu retribusinya masih Rp. 5000. Saya tetap membayar 5000 saja. KTP jadi selama 8 hari yang tercatat dalam nota pembayaran retribusi itu. Saya protes kenapa lama sekali. Jawab petugas; antriannya panjang mas!.

Tak ingin mencari keributan, saya pun kembali duduk ke bangku antrian sebelum cabut pulang.
Sambil menelpon keluarga di rumah saya memberi kabar kalau KTP tidak bisa jadi dalam satu hari atau di tunggu. Sesudah menutup telpon, ada bapak yang menghampiri. Kamipun mengobrol sesama pembuat KTP. Kata bapak itu, membuat KTP bisa satu jam jadi dengan Rp 30.000,-. Rp 25.000 sebagai pelicin agar cepat jadi di berikan ke petugas pendaftaran. Ada juga yang ngasih Rp.20.000,- untuk satu hari jadi. Jika hanya Rp.5000 saja, maka bisa di pastikan minimal 1 minggu, kata bapak itu. Itulah yang terjadi dengan saya, 5000 untuk 8 hari.

Di kecamatan lain, malah kabarnya bisa mencapai 1 bulan lebih dengan jalur normal 5000an. Ini mas, saya juga sedang nunggu mungkin hanya satu jam saja. Tadi saya ngasih 30 ribu ke petugas, tandas bapak itu. Sayapun manggut-manggut. Kok gitu ya Pak, ini tidak benar tanggap saya.

Dari fenomena klasik ini bisa dikatakan bahwa perilaku korup itu bisa di pengaruhi setidaknya oleh tiga hal;

1. Petugas yang memberi sinyal, kalau mau cepat harus ada biaya tambahan. Petugas menjadi posisi yang menerima suap dan memberikan peluang masyarakat untuk melakukan hal itu. Petugas nampaknya sengaja memberi kabar bahwa proses pembuatan lama, padahal tidak lama. Atau dengan bentuk yang lain hingga muncul uang pelicin.

2. Masyarakat itu sendiri. Masyarakat yang menginginkan agar KTP itu jadi, maka rela untuk memberikan biaya tambahan. Padahal sejatinya dia tahu biaya retribusi yang sebenarnya. Tapi seolah tak berdaya, hingga memberi biaya tambahan. Posisi ini sebagai penyogok atau penyuap.

3. Pengawasan yang lemah. Ini berkait dengan peraturan yang ada yang masih memungkinkan celah terjadinya suap menyuap (biaya tambahan) dalam proses pembuatan KTP. Entah siapa yang harus mengawasi. Petugas pencatat saja, di lengannya bertuliskan Pamong Praja. Kelihatannya pegawai kecamatan yang mengetahuinya juga cuek saja. Mungkin saja Bapak Camat jarang memperhatikan akan hal sepele ini tapi sebenarnya cermin kebobrokan moralitas aparatur kita.

Hampir bisa di pastikan, uang pelicin di atas masuk ke kantong oknum itu. Tak mungkin masuk menjadi retribusi KTP karena besar kecilnya sudah di tentukan oleh Perda (Peraturan daerah). Sedikit-sedikit, lama-lama juga menjadi bukit. Jamur kecil, tetapi ada di mana-mana. itulah pepatah yang pas untuk fenomena retribusi pembuatan KTP itu. Perilaku curang dalam hal ini mungkin saja tidak merugikan negara. Tetapi tetap merupakan perilaku korupsi yang menyalahi peraturan, sejatinya merugikan rakyat sebagai pihak yang mestinya di layani dengan baik.

Tahun 2010 ini beberapa kecamatan yang dekat dengan pusat kota Kebumen kabarnya di pindah ke kantor Capil. Satu sisi, ini akan membuat penumpukan antrian yang panjang. Satu sisi, ini langkah bagus untuk mencegah korupsi pembuatan KTP di kecamatan.

Mungkin kelak jika pembuatan di kantor Capil sudah terdengar ada pungutan liar atau ada jalur khusus cepat membuat KTP, calo berkeliaran, perlu lagi di pindah ke kecamatan lagi. Semacam anti kemapanan kali ya… Merupakan bentuk responsibility pemerintah daerah untuk mensiasati fenomena ini.

Setidaknya ini bisa di katakan langkah positif meminimalisir buruknya pelayanan masyarakat dengan penyimpangan peraturan.

Kenapa pemerintah daerah melakukan hal itu? Zaman sudah canggih. Tehnologi HP sangat membantu keluhan yang di hadapi masyarakat. No HP bupati dan pejabat terkait juga nampaknya di buka luas untuk juga menerima pengaduan. Di samping itu, Kebumen memiliki Ratih TV, TV lokas yang setiap pagi terdapat acara ‘Selamat Pagi Bupati’. Acara ini membuka sesi Tanya jawab interaktif live dengan warga masyarakat Kebumen. Pertanyaan/keluhan masyarakat banyak yang blak-blakan tak terkecuali keluhan membuat KTP, KK dan lain-lain.

Tetapi sebetulnya bukan itu persoalannya jika hanya ingin mencegah terjadinya korupsi terselubung oknum di kecamatan. Lemahnya pengawasan menjadi sebab utama terjadinya ‘jalur cepat’ pembuatan KTP yang kemudian di korupsi. Coba kalau uang itu masuk ke kas daerah, bakalan meningkat drastis tuh pendapatan daerah dari retribusi KTP.

Pendapatan daerah Kebumen dari sektor ini di tahun 2009 lalu mencapai Rp 2.025.705.000 atau 98,34 persen dari target sebesar Rp 2.060.000.000 (dalam Nota Keuangan APBD Kebumen). Angka yang cukup besar tentunya untuk pos retribusi KTP. Itu retribusi yang di hasilkan dari pembuatan KTP dengan 5000 saja.
Sudah berapa banyak ya…pungutan liar yang di lakukan oleh oknum petugas pencatat pembuatan KTP di kecamatan sebelum 2010 ini, akumulasi seluruh kecamatan yang ada? Bakalan pusing menghitungnya.

Eksplorasi sumber pendapatan daerah Kebumen, bisa di tingkatkan dengan pengawasan yang bagus dalam sektor retribusi KTP dan surat menyurat lainnya. Saya percaya supremasi peraturan bisa mengurangi meminimalisir perilaku korupsi sekaligus sebagai solusi konkrit memberantas terjadinya korupsi dalam sektor ini. Tanpa langkah yang jelas, hal kecil ini bisa langgeng dan ada di mana-mana. Persoalan korupsi sejatinya bukan persoalan besar kecilnya yang di korupsi. Tetapi persoalan menyalahi aturan dan merugikan negara serta merugikan rakyat.

Mulailah dari diri kita masing-masing sebagai solusi konkrit dan peran pribadi warga negara dalam ikut memberantas korupsi. Memberantas korupsi tidak hanya melalui proses peradilan saja, tetapi mencari dan memperbaiki akar permasalahannya. Mulai dari diri sendiri bukan berarti mengabaikan sebuah peraturan. Justru sebaliknya, untuk menegakkan peraturan butuh diri masing-masing untuk memulai, menjaga agar tidak mendukung atau melakukan perilaku korupsi. Banyak pejabat, pengusaha tersangkut pidana korupsi, di karenakan mereka tidak mempraktekkan kata bijak ini “Mulailah dari diri sendiri”. Akan menjadi repot, kalau mereka tidak memulai dan tidak pernah memulai.

***
Artikel ini di ikut sertakan dalam BlogPost Competition-Anti Korupsi.

About these ads
  1. 29/01/2010 pada 08:14 | #1

    bener mas, aku klo parkir motor bayar seribu engga pernah disobekin karcisnya. Ikutan mendukung parkir dikelola swasta..!

    • 29/01/2010 pada 09:02 | #2

      Iya Bundo, ya kalau parkir di mall sih memang sudah ada aturannya dan izinnya sendiri, kalau parkir di jalan itu lho….., bukannya eman2 ngasih 1000, tapi kan sayang…1000 rupaih kali sekian kali untuk kontribusi ke pendapatan daerah kan besar juga.. :lol:

  2. 29/01/2010 pada 08:20 | #3

    blue juga dong ikutan mensuportnya
    salam hangat dari blue

  3. 29/01/2010 pada 09:14 | #5

    wah wah wahh

    emang korupsi udah mengakar bahkan hal sekecil itu juga masih ajah kena pungli hebat emang yaw

    berkunjung om badruz

  4. 29/01/2010 pada 10:05 | #7

    korupsi dimana2,,, weleh-weleh-weleh

    • 29/01/2010 pada 10:29 | #8

      kalau nggak ada korupsi, nggak ramai mas :lol:

  5. 29/01/2010 pada 10:42 | #9

    Semacam anti kemapanan gitu…

    Saya ngakak koprol membaca kalimat Mas Badruz ini … hehhehehe …

    Mengenai pembuatan KTP …
    hhmmm …. no comment mas …
    menurut logika saya … Kalo dengan 30000 saja selesai sehari (satu jam bahkan)
    seharusnya dengan 5000 pun jika mau … satu hari pun bisa selesai … (or OK lah mungkin dua hari) Karena mesti ditanda tangani yang berkompeten kan …???
    KTP kan ndak perlu bahan bakar toh ?

    Hehehehe

  6. 29/01/2010 pada 11:18 | #11

    kalauw tadi bilang ketiga ini ke empatnya mas wakwkakwkak

    ayo hapus KKN beserta cucu cucuna seperti pungli dan anak-anaknya :d

  7. 29/01/2010 pada 11:47 | #13

    karcisnya saya kadang tidak bayar kadang bayar, karena begitu maunya tukang parkir, untuk KTP di Mas Badruz lebih murah dari pada di tempatku, memang sih hanya dua tiga jam sudah jadi, di antar kerumah lagi

    • 29/01/2010 pada 13:07 | #14

      kok di antar mas, mbuatnya di pamong ya….

  8. 29/01/2010 pada 13:56 | #15

    Mbikin KTP bukannya gratis,mas? atau kalo memperpanjang?

    • 29/01/2010 pada 14:06 | #16

      saya bikin ktp juga bayar

    • 29/01/2010 pada 15:10 | #17

      kalau ada sponsor misalnya Bank Dunia…baru gratisss tis mas, malah di uruskan. tapi setahu saya kalau noraml..ya tetep bayar mas..

  9. 29/01/2010 pada 14:06 | #18

    mampir ke blog saya ya meski hanya sebentar
    salam (_ _)

  10. 29/01/2010 pada 14:36 | #20

    Luar Biasa Indonesiaku, Semuanya dengan do it.

  11. 29/01/2010 pada 14:48 | #22

    Seperti sudah bertahun-tahun saya mengurus KTP harganya tidak pernah dibawah 25.000,–mungkin gaya instant yang saya baya memberikan pengaruh tersendiri.

    • 29/01/2010 pada 15:14 | #23

      50 ribu ya mas, ya kalau perda setempat memang besarnya segitu, kenapa tidak. yang repot kan misalnya perda nya 25 ribu, prakteknya 50 ribu, kan nggak bener mas, :lol:

  12. 29/01/2010 pada 15:40 | #24

    klo mau saya bikin ktp bisa gratis mas.. wong yg berwenang mengeluarkan ktp temen sendiri.
    tp saya mengikuti aturan main di lingkungan tempat tinggal, ktp harus diurus oleh seseorang yg telah ditunjuk pejabat rt dng ongkos ojek tentu saja :roll:

    • 29/01/2010 pada 16:24 | #25

      penghasilan ojek di bagi2 sama pejabat yang berwenang :lol: yah mendinglah lah Gus, selebihnya dari retribusi untuk biaya ojek.. kalau ini kan jelas dan beda konteknya :lol:

  13. 30/01/2010 pada 12:18 | #26

    bener ”hebat” negeri ini, dr hal2 yg paling kecil saja, sudah ada korupsi….
    salam.

  14. 06/02/2010 pada 00:59 | #28

    langsung meluncuuuuur.. he.he.. emang rumit yah masalah KTP, hmmm… didaerahku emang gitu sih tetep ada aja ‘sinyal’ dari petugas.. biar prosesnya bisa ini dan itu.. *halaaah*
    btw, thanks buat partisipasinya yaa.. ^^

    • 06/02/2010 pada 07:28 | #29

      sama-sama mas…

    • 23/02/2010 pada 22:02 | #30

      mas joddie, kok nggak bisa dibuka blog mu ditempat ku ya?

      mohon informasinya mas…

      kalau mas, nggak keberatan emailkan ke saya ya mas…

    • 24/02/2010 pada 06:48 | #31

      loading agak berat kali…, di laptop jelekku juga agak berat….

  15. rizal
    06/02/2010 pada 10:19 | #32

    wah betull tu waktu saya bikin KTP tu bayar Rp. 20.000,-

    memang korupsi sudah menjalar samapi lapissan masyarakat paling bawah…

    • 06/02/2010 pada 10:28 | #33

      tinggal di lihat mas, mbayar yang sesungguhnya berapa? ketahuan deh lebihnya…soale ada juga daerah yang gratis mbuat KTPnya mas…

  16. 07/02/2010 pada 03:48 | #34

    bagai mana kalo para koruptor itu disantet sumuk seumur hidup aja sam…

    • 07/02/2010 pada 05:41 | #35

      di hipnotis saja sama Romy Raffael atau Deddy Corbuzier suruh menembalikan uangnya… :lol:

  17. 09/02/2010 pada 17:05 | #36

    Setuju, santet saja..

  18. 10/02/2010 pada 13:52 | #38

    KTP…, dimana2 mnjadi lahan bagi para petugas terkait….

    • 11/02/2010 pada 07:25 | #39

      tapi sepertinya di biarkan saja ya Prof, mungkin hanya kecurangan kecil :lol:

  19. 15/02/2010 pada 11:07 | #40

    Memang ada daerah yang menerapkan sehari jadi, tapi ada juga yang masih harus menunggu sekian waktu!

    • 15/02/2010 pada 12:48 | #41

      betul mas, berbeda-beda…ya mungkin karena faktor yang berbeda pula..

  20. 18/02/2010 pada 19:09 | #42

    hmm.. 3 faktor yang mas sebutkan dalam andil korupsi sangatlah akurat……
    mari kita berantas korupsi sampai keakar akarnya.

    • 18/02/2010 pada 21:09 | #43

      faktor yang umum ada untuk korupsi yang tidak di anggap korupsi :lol:

  21. 23/02/2010 pada 21:58 | #44

    semoga sukses mas badruz…
    mas, boleh tahu ggak persyaratan lombanya?
    soalnya saya nggak bisa buka blog ceritainspirasi.net ne. nggak tau kenapa.

    mohon informasinya mas…

    kalau mas nggak keberatan, tolong di copas aja ketentuan lombanya dan kirimkan ke email saya,
    berrydevanda@gmail.com

    terimakasih bayak atas bantuan mas badruz…

    salam

    • 24/02/2010 pada 06:49 | #45

      okelah kalau begitu, nt saya emailkan…sama2 nggak apa2.

  22. 18/03/2010 pada 10:05 | #46

    salam kenal mas.. Sebelumnya selamat artikel ini berhasil menang blogpost contest.. Dari kebumen ya mas, istri saya juga orang kebumen lho..

    • 18/03/2010 pada 11:29 | #47

      Iya mas, terima kasih mas…..salam kena juga

  23. 20/03/2010 pada 01:23 | #48

    Selamat…dan sukses selalu. Salam kenal

  24. 23/05/2010 pada 10:37 | #50

    Oke salam kenal mas Badrus…

    Saya ngga sepakat kalo korupsi adl budaya bangsa kita…
    Di Negara yang sudah maju pun korupsi juga tetep ada dan koruptornya jauh lebih profesional..

  1. 27/09/2010 pada 23:49 | #1

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: