Mitos Masih Bertahan
Seperti pada tulisan tentang Mitos sebelumnya, saya lebih condong pada hal kebetulan biasa saja. dari 5 Kades yang pernah ada, 4 diantaranya adalah Kades Perjaka yang menikahi Janda. Sedang 1 kades yang pernah terpilih, akhirnya hanya menjabat selama 2 tahun saja, tak kuat melawan mitos, katanya.
Seperti kata Bunda Jangan Kuatir dalam komentar artikel serupa, terpilihnya Kades lebih pada yang di anggap paling amanah oleh warga desa, bukan karena hal kayak gituan. Ya…ya…ya…, mungkin tergantung devinisi mitos itu apa kali ya. Jika devinisi mitos adalah sesuatu yang kebetulan terjadi secara berulang-ulang dan terus menerus, maka mitos memang ada. He..he…
Jika mitos di anggap sebagai hal mengada-ada dan tahayul, maka mitos memang nggak pernah ada.
Saya mendevinisikan mitos dengan sederhana. Adalah suatu bentuk kesepakatan perilaku, pemahaman komunitas (kelompok) akan sesuatu. Dan mitos ini tidak bisa di generalisasikan, alias terbatas oleh ruang dan waktu tertentu. Jika ruang dan waktu yang berbeda, maka akan beda pula kesepakatan pemahaman yang ada. Ualaaah…, mumet…mitos kayak gituan saja di bahas
Paryadi, sebelumnya sudah menjabat. Berhasil mengalahkan mantan Ajib yang juga perjaka menikahi janda. Terlepas dari perdebatan mitos ada atau tidak, perlu di bahas atau tidak, adalah suatu kejadian yang unik. Beda dikit kali ya dengan tahayul. Kalau tahayul, bisa diartikan imaginasi yang nggak mungkin terjadi, tapi kalau mitos..imaginasi yang mungkin saja bisa terjadi. Ualah..mumet kok malah mendevinisikan karepe dewek, udah gitu belum tentu benar menurut anda. he..he..iya kaaan
baca judulnya aku pikir tentang apaan, eh ternyata nyambung ke pilkada.
salam