Perbedaan pemahaman tentang shalawat atas Nabi SAW, bermula dari perbedaan memahami antara makna dan lafadz. seperti Imam Syafii berpendapat terhadap alquran, bahwa alquran adalah lafadz dan makna. jadi, Imam syafi’i berpendapata bacaan ayat alquran dalam shalat harus di baca lafadz apa adanya seperti dalam alquran yang kita baca. terdapat Imam (saya lupa), bahwa alquran adalah makna. jadi, yang lebih penting adalah maknanya. bahasa arab hanya sebagai kebetulan berbahasa arab, karena tidak ada bahasa lain yang layak membunyikan bahasa Firman Allah SWT. kalau tidak salah ingat, Imam Hahafi (Abu Hanifah) juga memandang alqur’an adalah sebagai makna. bukan lafadznya. tetapi bukan berarti lafadz tidak penting, untuk memahami isinya harus menguasai lafadznya.
begitu juga banyak perbedaan mengenai bacaan shalawat. setidaknya dua aliran perbedaan dalam memahami shalawat. pertama, sebagai lafadz, dan kedua sebagai makna. sebagai lafadz, dipahami bahwa shalawat ya seperti bacaan pada doa dalam shalat, allahumma shalli ‘alaa muhammad wa’ala ali Muhammad dan seterusnya. serta shalawat yang pernah diucapkan oleh sahabat Nabi SAW ketika Nabi SAW masih hidup dan Nabi SAW tidak melarangnya. begitu juga nasyid seperti tembangan thala’al badru alaina…, ketika kaum anshar menyambut Nabi SAW bersama kaum muhajirin, dan Nabi SAW tidak melarang dalam kaum anshar menyambutnya dengan nasyid dan terbang tanpa kecrek.
sedangkan shalawat sebagai makna, adalah mendo’akan kepada Nabi SAW (memohon rajmat, salam dan berkah) kepada Allah SWT. kelompok ini disamping tidak menafikan shalawat yang sudah ada contohnya seperti dalam shalat dll, juga terdapat shalawat (lafadz) yang tidak di contohkan oleh para sahabat. banyak sekali shalawat dalam arti yang penting maknanya mendoakan atau mengqiyaskan dengan bacaan shalawat yang sudah ada. sehingga, banyak lafadz shalawat karangan para ulama terdahulu. bisa dicontohkan, seperti shalawat albarzanji. shalawat ini disamping menampilkan shalawat yang ada contohnya, tetapi juga mengkombinasikan shalawat dalam arti makna, bahkan sejarah hidup Nabi SAW yang dikemas dalam susunan do’a. begitu juga dengan perbedaan pengertian do’a. ada do’a sebagai lafadz, dalam arti berdoa ya harus yang dicontohkan oleh Nabi SAW dan para sahabat. ada juga berdo’a sebagai makna. berdo’a sebagai makna tidak pernah mengabaikan do’a yang sudah ada contohnya. tetapi juga, berdoa dengan bahasa selain Arab. misalnya saya berdo’a. Ya Allah, berilah rahmat dalam salam kepada Nabi SAW karena Nabi SAW adalah panutan dalam hidupku serta inspirasi dalam hidupku. ini salah satu doa dalam arti lebih mementingkan makna. coba, kalau di bahasa arabkan, akan nampak tidak ada bedanya dengan doa lain yang berbahasa arab.
hemat saya, perbedaan itu biarlah menjadi perbedaan. yang jelas, tidak membatalkan islam dan iman kita. karena manusia diberi akal dengan kemampuan yang berbeda-beda, maka jelaslah banyak terjadi perbedaan dalam memahami sesuatu.
sudah tidak saatnya lagi, saling tuduh dan saling mengaku yang paling benar. jika kita mengikuti pemahaman do’a shalawat sebagai lafadz (shalata harus begitu yang di contohkan), ya tidak pernah ada jeleknya. begitu juga yang memahami shalawat sebagai lafadz dan juga mementingkan makna, sehingga bisa jadi banyak do’a dan shalawat di lakukan selain berbahasa Arab, ya biarlah orang melakukan hal itu, saya kira tidak ada salahnya. perbedaan seperti itu sudah tidak selayaknya di ekspos besar-besaran misalnya dalam bentuk buku menvonis bahwa doa, shalawat ini itu, shalawat al barzanji adalah sesat dll. menurut saya, hazanah ilmu Islam sangat luas, jangan coba-coba untuk menyempitkanya, sehingga menjadi pemahaman yang sesat. Islam tidak akan pernah bisa maju kalau saling tuduh bid’ah dan mengaku yang paling sesuai dengan alqur’an dan hadits Nabi SAW. di Indonesia, do’a, shalawat, dalam arti makna juga nyata-nyata terbukti wfektif untuk menyebarkan Islam. pemahaman sebagai makna, bukan dalam rangka mengajak inkar kepada Allah SWT dan rasul SAW, tetapi mengajak mendekat kepadaNYA.
Ya Allah…, Berilaha rahmat, salam, berkah kepada Rasulku, semoga melimpah juga kepadaku.
.